HARI RAYA KURBAN, PENGORBANAN BUTUH IMAN


Oleh: Abdul Waseh Hasas
Ketua PB PGRI
Ketua LKBH Nasional PB PGRI

Kata kurban berasal dari bahasa Arab qurban yang berarti “dekat”. Mungkin itulah makna terdalam dari kurban: ketika kita ingin dekat dengan keberhasilan, maka kita harus berani melakukan pengorbanan, baik waktu, tenaga, maupun harta.

Mengapa Harus Berkurban?

Hukum asal melaksanakan kurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) bagi umat Islam yang mampu. Meski demikian, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai status hukumnya menjadi wajib dalam kondisi tertentu.
Mayoritas ulama dari Mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hambali berpendapat bahwa kurban hukumnya sunnah muakkadah. Artinya, sangat dianjurkan bagi Muslim yang sudah baligh, berakal, dan mampu secara finansial untuk melaksanakannya. Tidak berdosa bagi yang meninggalkannya, tetapi sangat disayangkan apabila melewatkan keutamaannya.

Konteks Iman dalam Kurban

Kurban dilakukan oleh orang yang memiliki keimanan terhadap hukum dan keutamaan berkurban, serta percaya atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, berkurban membutuhkan pengorbanan harta untuk membeli hewan kurban, ketelitian dalam memilih hewan, serta ketepatan waktu dalam pelaksanaannya.
Lepasnya sebagian harta yang dimiliki tentu bukan perkara mudah. Jika bukan karena iman, hal itu akan sulit direalisasikan. Namun, pengorbanan tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam ketika diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyembelih putranya, Nabiyullah Ismail Alaihis Salam.
“Lepasnya sebagian harta atau dikurbankannya Nabiyullah Ismail Alaihis Salam, pengorbanan manakah yang lebih berat?”
Tanpa kuatnya keimanan Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam dan Nabiyullah Ismail Alaihis Salam, kurban tidak akan menjadi bagian dari syariat Islam yang hingga hari ini masih kita laksanakan.

Kisah kepatuhan Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam ketika diperintahkan Allah SWT untuk mengorbankan putra kesayangannya menjadi pelajaran besar tentang ketulusan dan ketaatan. Melihat keikhlasan keduanya, Allah kemudian menggantikan Nabiyullah Ismail dengan seekor domba untuk disembelih. Peristiwa tersebut diabadikan sebagai syariat kurban hingga kini.
Beberapa poin penting dari sejarah Hari Raya Iduladha antara lain:

  1. Perintah melalui mimpi. Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam menerima perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Nabiyullah Ismail Alaihis Salam.
  2. Ketabahan Nabiyullah Ismail Alaihis Salam. Ketika perintah itu disampaikan, Nabiyullah Ismail Alaihis Salam tidak menolak. Bahkan, beliau meminta ayahnya melaksanakan perintah tersebut sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Inilah kekuatan iman yang sesungguhnya.
  3. Diganti dengan seekor domba. Ketika Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam hendak melaksanakan perintah tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuktikan keimanan keduanya dan mengganti Nabiyullah Ismail dengan seekor domba besar untuk disembelih.
  4. Menjadi syariat Islam. Peristiwa pengorbanan tersebut kemudian ditetapkan sebagai syariat dalam agama Islam dan diperingati setiap tanggal 10 Zulhijah melalui ibadah kurban. Konteks Sosial Iduladha

Dalam konteks sosial, Iduladha memiliki pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat dan bangsa ini. Dengan adanya kurban, masyarakat kecil dapat merasakan daging yang mungkin pada hari-hari biasa sulit mereka nikmati.
Pelaksanaan kurban juga melatih umat Islam memiliki jiwa filantropi, yaitu berbagi rezeki kepada mereka yang membutuhkan, terutama fakir miskin. Secara langsung, hal ini membantu mengurangi kesenjangan sosial di tengah masyarakat.
Kegiatan bersama seperti menyembelih hewan kurban, mengemas, hingga mendistribusikan daging mempertemukan warga dari berbagai latar belakang. Interaksi ini secara alami mencairkan suasana dan memperkuat semangat gotong royong.
Selain itu, meningkatnya permintaan hewan kurban memberikan dampak ekonomi langsung, terutama bagi peternak dan pedagang lokal di berbagai daerah. Bagi masyarakat kelas bawah, momen Iduladha menjadi kesempatan yang sangat dinanti karena mereka memperoleh asupan protein hewani yang mungkin jarang dikonsumsi pada hari-hari biasa.

Simbiosis mutualisme atas dasar keimanan dan kebutuhan sosial merupakan dinamika yang sangat baik di tengah lunturnya budaya gotong royong, saling menghormati, dan tolong-menolong.
Semoga melalui Iduladha ini kita dapat mengambil i’tibar untuk kembali mengingat pengorbanan besar Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam, Nabiyullah Ismail Alaihis Salam, dan Siti Hajar. Pengorbanan harta untuk membeli hewan kurban serta berbagi rezeki kepada mereka yang membutuhkan sejatinya hanyalah pengorbanan kecil dibandingkan keteladanan mereka.
Selamat Hari Raya Iduladha.

Wallahu a’lam bishawab. Insan Dhoif

Posted in News

Berita Terkait

Top