Kontroversi Senam Musik Keras di Halaman RSKM Cilegon: Antara Kesehatan dan Kenyamanan Pasien


TP | Cilegon- Kegiatan senam yang biasanya identik dengan semangat dan kesehatan, kini menjadi sorotan di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon. Pasalnya, lantunan musik berdentum keras yang digunakan untuk mengiringi senam di area halaman rumah sakit dinilai mengganggu kenyamanan pasien yang tengah menjalani perawatan.

 

Sejumlah keluarga pasien, yang memilih untuk tidak disebutkan namanya, menyayangkan kerasnya suara musik yang diputar dalam kegiatan senam tersebut. Mereka menilai bahwa rumah sakit seharusnya menjadi tempat yang tenang dan nyaman, khususnya bagi pasien yang sedang dalam proses pemulihan.

 

“Sangat disayangkan, rumah sakit yang seharusnya fokus pada pelayanan dan kenyamanan pasien justru memperbolehkan kegiatan senam dengan suara musik yang begitu keras. Ini bisa dianggap sebagai penyalahgunaan fasilitas yang seharusnya mendukung proses penyembuhan, bukan malah mengganggunya,” ujar salah satu keluarga pasien dengan nada kecewa.

 

Senam sebagai bentuk olahraga di lingkungan rumah sakit sejatinya bukan hal yang dilarang. Bahkan, kegiatan tersebut bisa memberikan manfaat positif, terutama bagi tenaga kesehatan dan karyawan rumah sakit dalam menjaga kebugaran tubuh. Namun demikian, pelaksanaannya harus mempertimbangkan kondisi sekitar, terutama keberadaan pasien yang membutuhkan suasana tenang dan nyaman untuk proses penyembuhan yang optimal.

 

“Silakan saja melakukan senam dengan iringan musik, itu hak setiap orang untuk hidup sehat. Tapi, volume musik sebaiknya disesuaikan. Jangan sampai terlalu keras hingga mengganggu pasien-pasien yang sedang beristirahat,” tambah sumber tersebut.

 

Di tengah polemik tersebut, pihak manajemen RSKM memberikan klarifikasi. Humas Rumah Sakit Krakatau Medika, Agus, membenarkan adanya kegiatan olahraga di lingkungan rumah sakit. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memang rutin dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan dan kebugaran para karyawan.

 

“Ya kang, untuk menjaga kesehatan karyawan diadakan olahraga,” tulis Agus saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.

 

Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen terkait evaluasi terhadap volume musik yang digunakan dalam kegiatan tersebut. Masyarakat dan keluarga pasien berharap agar pihak rumah sakit bisa lebih bijak dalam mengatur aktivitas yang melibatkan suara keras, mengingat suasana rumah sakit yang seharusnya lebih kondusif bagi pemulihan pasien.

 

Kejadian ini menjadi refleksi penting bagi semua pihak, bahwa menjaga keseimbangan antara kesehatan karyawan dan kenyamanan pasien adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Rumah sakit bukan hanya tempat untuk bekerja, tapi juga tempat di mana orang-orang berharap untuk sembuh dan pulih dalam ketenangan.

(Red)

Posted in News

Berita Terkait

Top